Vitamin adalah persenyawaan organic yang merupakan komponen dari bahan pakan tetapi bukan karbohidrat, lemak, protein dan air. Senyawa terdapat dalam jumlah sedikait dalam bahan makanan dan esensial untuk perkembangan dan pertumbuhan yang normal dan untuk kesehatan, pertumbuhan dan hidup pokok.
Vitamin sendiri terbagi menjadi 2 kategori, yaitu vitamin yang larut dalam lemak & vitamin yang larut dalam air. Vitamin yang larut dalam lemak adalah : vitamin A, D, E, K yang dapat disimpan oleh tubuh karena sifatnya yang larut dalam lemak tubuh. Sedangkan vitamin yang larut dalam air yaitu : vitamin B1, B2, B6, B12, asam nikotinat (niasin), asam pantotenat, asam folat, biotin, kolin dan C tidak bisa diserap oleh tubuh karena harus dilarutkan dulu dalam air.
Vitamin larut dalam lemak
1. Vitamin A
Fungsi Mencegah masalah kesehatan mata, meningkatkan sistem imun, juga berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan sel.defisiensi vitamin A pada itik muda akan menyebabkan keterlambatan dan menahan pertumb uhan tulang rawan., dan kelebihan vitamin A akan memepercepat pertumbuhan tulang. Apabila kurang vitamin A akan mengakibatkan ataxia, dan patologi. Vitamin A besumber dari minyak ikan yang bentuk ester, dan dari sintesis kimia industri.
2. Vitamin D
Fungsi Diperlukan untuk memperkuat tulang karena vitamin D membantu penyerapan kalsium oleh tubuh. Sumber Vitamin D merupakan vitamin yang unik karena dapat diproduksi sendiri oleh tubuh saat terkena sinar matahari. Sumber lain yang terdapat vitamin D adalah kuning telur, minyak ikan & susu yang sudah difortifikasi. Kekurangan vitamin D pada yam dewasa akan menyebabkan tulang lemah dan mudah patah dan pada anak ayam akan terjadi bungkul-bungkul. Kelebihan vitamin D tulang juga menjadi rapuh.
3. Vitamin E
vitamin E dibutuhkan untuk fertilitas normal pada akalkun muda dan untuk daya prestasi reproduksi untuk ayam petelur. Fungsi Vitamin E merupakan anti oksidan yang dapat melindungi sel dari kerusakan. Vitamin E juga penting untuk kesehatan sel darah merah.
Sumber Vitamin E dapat ditemukan dalam berbagai makanan, seperti minyak nabati, kacang-kacangan, sayuran berdaun hijau, alpukat & gandum. Penyakit yang disebabkan akibat kekurangan vitamin E pada ayam dewasa akan menurunkan daya tetas telur denagan nyata.
4. Vitamin K
Fungsi dari vitamin K adalah untuk koagulation atau untuk pembekuan darah. Dan apabila terjadi defisiensi vitamin K akan mengakibatkan Panjangnya waktu pembekuan darah. Sumber vitamin K berasal dari phylloquinon dan vitamin K sintesis
Vitamin larut dalam air
1. Vitamin B1 (Thiamin)
merupakan prekursor tiamin pirofosfat yaitu koenzim reaksi enzimatik yang melibatkan pemindahan gugus aldehid molekul donor menjadi molekul penerima. Thiamin merupakan bagian dari TPP, yaitu koenzim yang dibutuhkan untuk metabolisme energi. Sistem syaraf dan otot tergantung pada thiamin. Pada ayam muda defisiensi ini etrlihat sebelum umur 2 minggudengan anorexia dan diikiti oleh kehilangan berat badan, bulu kusut, kaki lemah dan langkah sempoyongan dan pada ayam dewasa akan memperlihatkan jengger biru.
2. Vitamin B2 (riboflavin)
Merupakan prekursor koenzim FMN (Flavin Adenin Dinukleotida) dan FAD (flavin Mono Nukleotida). Fungsinya dapat mengikat apo-enzim menjadi enzim oksidasi-reduksi penting untuk metabolisme karbohidrat dan protein. Struktur riboflavin yaitu 6,7-dimetil-9-isoaloksasin Biosintesis: precursor turunan guanosin fosfat oleh semua tanaman hijau, kebanyakan bakteri dan jamur. Sifar fisika kimia dan stabilitas: Kristal kuning atau kuning orange, sedikit berbau. Larut dalam air, lebih mudah larut dalam larutan isotonis, kurang larut dalam alcohol, tidak larut dalam eter. Dalam suasana basa, dikenai sinar UV menjadi lumiflavin.Susu dan produk-produk susu, misalnya keju, merupakan sumber yang baik untuk riboflavin. Untuk itu ketersediaannya dalam makanan sehari-hari sangat penting. Fungsi riboflavin membentuk prostetik dari selusin enzim lebih dalam tubuh hewan. Riboflavin sangat esensial untuk pertumbuahan dan perbaikan jaringan- jaringan pada semua hewan. Kekurangan riboflavin mengakibatkan ayam yang sedang tumbuh terjadi lumpuh kaki. Produksi telur tidak terganggu, tetapi pada induk ayam yang kekurangan riboflavin telurnya tidak dapat menetas.
3. Vitamin B3 (niacin) atau Asam Nikotinat
Daging unggas dan ikan merupakan sumber utama niasin, sama halnya roti dan sereal (biji-bijian). Niasin memiliki keunikan diantara vitamin B karena tubuh dapat membentuknya dari asam amino triptophan. Asam nikotinat didapatkan secara dalam butiran-butiran dan hasil ikutanya dan dalam protein suplemen. Gejala utama apabila kekurangan nikotinat adalah pada ayam muda akan terjadi pembesaran persendian tumit dan pembengkokan kaki.
4. Vitamin B6 (piridoksin)
Koenzim vitamin B6 berperan penting dalam metabolisme asam amino, sehingga konsumsi sehari-hari harus sebanding dengan konsumsi protein, karena protein dibuat dari asam amino. Daging, ikan dan unggas (itik, ayam dll) merupakan sumber utama vitamin B6. Sumber yang lain adalah kentang, beberapa sayuran hijau dan buah berwarna ungu. Vitamin B6 berperan dalam metabolisme asam amino dan asam lemak. Vitamin B6 membantu tubuh untuk mensintesis asam amino nonesensial. Sumber dari vitamin B6 adalah dari bahan-bahan makan yang kompleks protein piridoksal, piridoksal, piridoksamin fosfat. Penyakit-penyakit yang disebabkan akibat kekurangan piridoksin adalah kelambatan pertumbuhan, acrodynia, kekejangan epileptic, anemia, dan sebagian alocepia.
5. Asam pantotenat
Asam pantotenat umumnya ada dalam sebagian besar makanan. Daging, ikan, unggas (ayam, itik dll), semua biji-bijian dan sayuran merupakan sumber utama. Asam pantotenat berperan dalam metabolisme sebagai bagian dari koenzim A. Koenzim ini berperan untuk membawa molekul dalam proses pemecahan glukosa, asam lemak dan metabolisme energi.
6. Biotin (Vitamin B8)
Biotin seperti thiamin mengandung sulfur. Bitin merupakan Kristal yang panjang dan bentinya seperti jarum putih. Sumber dari biotin adalah ahti, ragi, melase (tetes) kacang tanah dan telur. Defesiensi biotin pada ayam mengakibatkan dermatitisyang gejalanya sama dengan defisiensi asam pantotenat
7. Folaiksin (asam polat)
Persenyawaan asam polat terbesar di alam, dalam hewan, dalam tumbuhan dan mikroorganisme. Pada anak ayam, kekurangan asam polat mengakibatkan gejala anemia makrositik yang hebat, juga mengakibatkan pertumbuhan yang menurun, pertumbuhan bulu kurang bagus dan perosis.
8. Vitamin B12
Vitamin B12 berrsumber dari sintesis oleh banyak bakteri actinomyces tetapi bukan ragi atau jamur. Dan terdapat dalam daging, susu, telur dan ikan. Gejala kekeurangan vitamin ini adalah pertumbuahn terlamnbat, efisiensi penggunaan akan menurunmortilitas dan daya tetas menurun.
9. Kolin
Bahan-bahan makan yang kaya akan kolin untuk unggas dalah hati, tepung ikan dan bungkil kedelai. Penyakit akibat defisiensi kolin adalah pertumbuhan lambat dan dan memperlihatkan gejala perosis pada ayam kalkun muda.
10. Vitamin C
Vitamin C berfungsi sebagai daya tahan tubuh, stamina ayam itu sendiri dan dapat mengurangi cekaman atau stress. Sumber dari vitamin C adalah Brokoli, sayuran berwarna hijau, kol (kobis), melon dan strawberi. Kekurangan vitamin ini mengakibatkan daya tahan tubuh menurun dan mudah mengalami stres atau cekaman.
imagesku
Rabu, 05 Mei 2010
Senin, 11 Januari 2010
LEGUMINOSA
PENDAHULUAN
Dalam usaha peternakan, biaya produksi untuk pakan dapat mencapai 70%. Oleh karena itu keuntungan usaha ini dapat diperoleh apabila ransum/pakan yang diberikan cukup murah tetapi dapat memenuhi kebutuhan ternak.
Bahan pakan untuk sapi dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu Hijauan dan Pakan Tambahan (Konsentrat). Untuk mendapatkan hasil produksi yang baik maka kedua macam bahan pakan ini harus diberikan, karena diharapkan dari kedua macam bahan pakan ini kebutuhan protein dapat terpenuhi.
HIJAUAN
Hijauan merupakan bahan pakan pokok yang biasanya dipenuhi dari rumput. Produksi susu sapi yang rendah dapat terjadi karena kuantitas dan kualitas rumput kurang baik terutama terjadi pada musim kemarau. Untuk mengatasi kekurangan rumput tersebut maka dapat dipakai bahan hijauan lain berupa daun kacang-kacangan (gliricidia, kaliandra, lamtoro, turi, enceng gondok dll) dan limbah pertanian (jerami padi, batang jagung, kelobot jagung dll). Jumlah hijauan yang diberikan sebagai pakan sapi perah berkisar 50-75 % dari protein yang dibutuhkan atau perhitungan secara kasar kurang lebih 10 % berat badan.
DAUN – DAUNAN SEBAGAI PENGGANTI RUMPUT
KALIANDRA (Calliandra calothyrsus)
Kaliandra adalah tanaman kacang-kacangan (leguminosa) semak yang dapat tumbuh pada musim kemarau walaupun tidak sebaik pertumbuhan dimusim hujan, terutama pada daerah berlereng curam. Untuk tumbuh ideal rata-rata temperatur yang diperlukan 20-28 derajat Celsius. Untuk tujuan sebagai sumber hijauan pakan ternak jarak tanam 1×1 meter atau 2×0,5 meter pada awal musim hujan. Pemotongan tanaman dilakukan setiap 12 minggu dengan tinggi potong 1 meter, produksi yang diperoleh 10 ton bahan kering/Ha/tahun.
Komposisi kimiawi kaliandra mengandung protein berkisar 20%, terdapat tanin 8-11%, saponin, flavonoid dan glikosida dalam jumlah kecil yang tidak membehayakan ternak.
Kaliandra dapat digunakan sebagai pengganti sebagian rumput yang diberikan. Pada sapi dapat menggantikan rumput maksimal 50%, sedangkan untuk domba sampai dengan 30%. Pemberian pada ternak sebaiknya dalam bentuk segar karena proses pengeringan akan menurunkan konsumsi dan kecernaanya, selain itu kandungan tanin dalam kaliandra segar kurang berbahaya untuk ternak. Kaliandra dapat diberikan saat sebelum atau sesudah pemberian pakan tambahan.
GAMAL (Glicidia sepium)
Gamal adalah tanaman leguminosa yang dapat tumbuh dengan cepat didaerah kering. Gamal tumbuh baik pada daerah dengan temperatur 22-40 derajat celcius. Sebagai sumber hijauan pakan ternak sebaiknya ditanam dengan jarak 1×1 meter dengan interval pemotongan 6-12 minggu, sedangkan pemotongan pertama dilakukan pada 10-20 minggu. Cara tanam dapat dilakukan dengan stek maupun biji, hasil produksi yang diperoleh berkisar antara 19 ton/ha/tahun.
Komposisi kimiawi gamal mengandung protein 19-25%, mengandung racun kumarin yang tinggi, saponin dan asam fenolat dalam jumlah kecil. Gamal dapat digunakan sebagai pengganti sebagian rumput, pemberian pada sapi maksimal sampai 40%, sedangkan pada domba sampai dengan 75%. Untuk menurunkan kandungan kumarin maka sebelum diberikan pada ternak sebaiknya dilayukan atau dijemur lebih dahulu selama beberapa jam atau semalaman. Sebaiknya gamal diberikan bersama-sama dengan pemberian rumput.
LAMTORO GUNG (Leucaena leucocepala)
Lamtoro merupakan salah satu leguminosa tropis yang tahan dengan pemotongan berulang-ulang. Produksinya 20 ton bahan kering/Ha/tahun. Komposisi kimiawi lamtoro mengandung protein, zat tanin yang cukup baik untuk pakan ternak dan mengandung racun mimosin yang tinggi. Sebagai hijaunan pakan ternak, untuk mengurangi kandungan mimosin maka harus dijemur sehari lebih dahulu.
Lamtoro dapat digunakan sebagai pengganti sebagian rumput. Pemberian pada sapi perah sampai 50% dapat menyebabkan air susu bau khas walaupun dapat meningkatkan kandungan lemak dan produksinya.
TURI (Sesbania glandiflora)
Turi merupakan golongan leguminosa yang disukai ternak dan buangannya disukai penduduk. Turi tahan terhadap pemotongan berulang-ulang. Produksinya dapat mencapai 20 ton bahan kering/Ha/tahun.
Turi mengandung protein tinggi yaitu 36% dan mengandung energi lebih tinggi dibanding kaliandra, lamtoro dan gamal. Turi mengandung racun saponin yang sangat tinggi sehingga membahakan ternak, terutama pada ternak golongan ayam. Turi dapat diberikan pada golongan sapi dan domba sebagai pengganti sebagian rumput. Pemberian sampai dengan 2 kilogram pada domba dapat meningkatkan berat badan 300% dibanding yang diberi rumput gajah saja. Sedangkan pada sapi yang diberi 2 Kg dicampur jerami dapat menghasilkan berat badan sama dengan pemberian ransum yang sempurna.
SORGUM (Sorghum vulgare)
Sorgum termasuk tanaman yang diambil bijinya, limbah tanaman ini dapat digunakan sebagai pakan ternak. Tanaman sorgum dapat tumbuh pada daerah dengan temperatur tinggi dan kurang curah hujan. Sebagai pakan ternak sebaiknya ditanam awal musim kering. Kandungan protein sorgum berkisar 7,5 – 8,2%, sorgum ini mengandung racun asam sianida yang dapat dihilangkan dengan dibuat hay dan silase.
Sorgum dapat digunakan sebagai penganti rumput. Adanya asam sianida dalam sorgum maka pemakaian pada sapi jangan terlalu tinggi (10-20)% dengan dibuat hay atau silase.
JERAMI
Jerami dapat berasal dari sisa hasil pertanian misalnya jerami padi, jerami kedelai, jerami kacang tanah dll.
Kandungan protein jerami tidak tinggi hanya berkisar 5-10% dengan kandungan serat kasar yang sangat tinggi. Jerami dapat diberikan pada sapi untuk menggantikan rumput, pemberian pada sapi jangan lebih dari 20%.
Dalam usaha peternakan, biaya produksi untuk pakan dapat mencapai 70%. Oleh karena itu keuntungan usaha ini dapat diperoleh apabila ransum/pakan yang diberikan cukup murah tetapi dapat memenuhi kebutuhan ternak.
Bahan pakan untuk sapi dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu Hijauan dan Pakan Tambahan (Konsentrat). Untuk mendapatkan hasil produksi yang baik maka kedua macam bahan pakan ini harus diberikan, karena diharapkan dari kedua macam bahan pakan ini kebutuhan protein dapat terpenuhi.
HIJAUAN
Hijauan merupakan bahan pakan pokok yang biasanya dipenuhi dari rumput. Produksi susu sapi yang rendah dapat terjadi karena kuantitas dan kualitas rumput kurang baik terutama terjadi pada musim kemarau. Untuk mengatasi kekurangan rumput tersebut maka dapat dipakai bahan hijauan lain berupa daun kacang-kacangan (gliricidia, kaliandra, lamtoro, turi, enceng gondok dll) dan limbah pertanian (jerami padi, batang jagung, kelobot jagung dll). Jumlah hijauan yang diberikan sebagai pakan sapi perah berkisar 50-75 % dari protein yang dibutuhkan atau perhitungan secara kasar kurang lebih 10 % berat badan.
DAUN – DAUNAN SEBAGAI PENGGANTI RUMPUT
KALIANDRA (Calliandra calothyrsus)
Kaliandra adalah tanaman kacang-kacangan (leguminosa) semak yang dapat tumbuh pada musim kemarau walaupun tidak sebaik pertumbuhan dimusim hujan, terutama pada daerah berlereng curam. Untuk tumbuh ideal rata-rata temperatur yang diperlukan 20-28 derajat Celsius. Untuk tujuan sebagai sumber hijauan pakan ternak jarak tanam 1×1 meter atau 2×0,5 meter pada awal musim hujan. Pemotongan tanaman dilakukan setiap 12 minggu dengan tinggi potong 1 meter, produksi yang diperoleh 10 ton bahan kering/Ha/tahun.
Komposisi kimiawi kaliandra mengandung protein berkisar 20%, terdapat tanin 8-11%, saponin, flavonoid dan glikosida dalam jumlah kecil yang tidak membehayakan ternak.
Kaliandra dapat digunakan sebagai pengganti sebagian rumput yang diberikan. Pada sapi dapat menggantikan rumput maksimal 50%, sedangkan untuk domba sampai dengan 30%. Pemberian pada ternak sebaiknya dalam bentuk segar karena proses pengeringan akan menurunkan konsumsi dan kecernaanya, selain itu kandungan tanin dalam kaliandra segar kurang berbahaya untuk ternak. Kaliandra dapat diberikan saat sebelum atau sesudah pemberian pakan tambahan.
GAMAL (Glicidia sepium)
Gamal adalah tanaman leguminosa yang dapat tumbuh dengan cepat didaerah kering. Gamal tumbuh baik pada daerah dengan temperatur 22-40 derajat celcius. Sebagai sumber hijauan pakan ternak sebaiknya ditanam dengan jarak 1×1 meter dengan interval pemotongan 6-12 minggu, sedangkan pemotongan pertama dilakukan pada 10-20 minggu. Cara tanam dapat dilakukan dengan stek maupun biji, hasil produksi yang diperoleh berkisar antara 19 ton/ha/tahun.
Komposisi kimiawi gamal mengandung protein 19-25%, mengandung racun kumarin yang tinggi, saponin dan asam fenolat dalam jumlah kecil. Gamal dapat digunakan sebagai pengganti sebagian rumput, pemberian pada sapi maksimal sampai 40%, sedangkan pada domba sampai dengan 75%. Untuk menurunkan kandungan kumarin maka sebelum diberikan pada ternak sebaiknya dilayukan atau dijemur lebih dahulu selama beberapa jam atau semalaman. Sebaiknya gamal diberikan bersama-sama dengan pemberian rumput.
LAMTORO GUNG (Leucaena leucocepala)
Lamtoro merupakan salah satu leguminosa tropis yang tahan dengan pemotongan berulang-ulang. Produksinya 20 ton bahan kering/Ha/tahun. Komposisi kimiawi lamtoro mengandung protein, zat tanin yang cukup baik untuk pakan ternak dan mengandung racun mimosin yang tinggi. Sebagai hijaunan pakan ternak, untuk mengurangi kandungan mimosin maka harus dijemur sehari lebih dahulu.
Lamtoro dapat digunakan sebagai pengganti sebagian rumput. Pemberian pada sapi perah sampai 50% dapat menyebabkan air susu bau khas walaupun dapat meningkatkan kandungan lemak dan produksinya.
TURI (Sesbania glandiflora)
Turi merupakan golongan leguminosa yang disukai ternak dan buangannya disukai penduduk. Turi tahan terhadap pemotongan berulang-ulang. Produksinya dapat mencapai 20 ton bahan kering/Ha/tahun.
Turi mengandung protein tinggi yaitu 36% dan mengandung energi lebih tinggi dibanding kaliandra, lamtoro dan gamal. Turi mengandung racun saponin yang sangat tinggi sehingga membahakan ternak, terutama pada ternak golongan ayam. Turi dapat diberikan pada golongan sapi dan domba sebagai pengganti sebagian rumput. Pemberian sampai dengan 2 kilogram pada domba dapat meningkatkan berat badan 300% dibanding yang diberi rumput gajah saja. Sedangkan pada sapi yang diberi 2 Kg dicampur jerami dapat menghasilkan berat badan sama dengan pemberian ransum yang sempurna.
SORGUM (Sorghum vulgare)
Sorgum termasuk tanaman yang diambil bijinya, limbah tanaman ini dapat digunakan sebagai pakan ternak. Tanaman sorgum dapat tumbuh pada daerah dengan temperatur tinggi dan kurang curah hujan. Sebagai pakan ternak sebaiknya ditanam awal musim kering. Kandungan protein sorgum berkisar 7,5 – 8,2%, sorgum ini mengandung racun asam sianida yang dapat dihilangkan dengan dibuat hay dan silase.
Sorgum dapat digunakan sebagai penganti rumput. Adanya asam sianida dalam sorgum maka pemakaian pada sapi jangan terlalu tinggi (10-20)% dengan dibuat hay atau silase.
JERAMI
Jerami dapat berasal dari sisa hasil pertanian misalnya jerami padi, jerami kedelai, jerami kacang tanah dll.
Kandungan protein jerami tidak tinggi hanya berkisar 5-10% dengan kandungan serat kasar yang sangat tinggi. Jerami dapat diberikan pada sapi untuk menggantikan rumput, pemberian pada sapi jangan lebih dari 20%.
Minggu, 03 Januari 2010
Budidaya Hijauan Pakan Ternak
Pengolahan tanah.
Pengolahan tanah bertujuan untuk mempersiapkan media/tempat tumbuh yang optimal bagi hijauan pakan ternak, sebab tanah yang diolah akan menjamin perkembangan perakaran yang sempurna, memperbaiki aerasi, kelembaban dan kesuburan tanah, Penanaman pada tanah gembur, tanah diolah atau dicangkul cukup satu kali saja, sedangkan pada keras atau padat tanah perlu diolah beberapa kali dan digaru sampai tanah menjadi gembur, atau pembuatan lobang tanam yang lebih besar sehingga memudahkan perkembangan akar hijauan.
Persiapan bibit.
Bibit yang digunakan berasalah dari pols (sobekan) yang mempunyai sifat rumput harus muda, tegak dan sehat, tinggi sama dalam satu rumpun, panjangnya pols sekitar 10 cm dari permukaan tanah.
Penanaman.
Jarak tanam yang digunakan pada hijauan pakan ternak adalah bermacam-macan dan ini sangat tergantung kepada jenis hijauan, dan topografi lahan. Untuk jenis-jenis hijauan yang tubuh tegak dan berumpun, jarak tanam yang dapat digunakan adalah 60- 90 cm x 45 – 60 atau 100 x l00 cm, sedangkan untuk jenis yang membentuk stolon atau rhizoma maka jarak tanam yang dapat digunakan 90 x 60 cm, 90 x 100 cm atau 100 x 100 cm. Begitu pula pada daerah-daerah datar jarak tanam dapat digunakan adalah 100 x 100 cm. Pada daerah-daerah miring jarak tanam yang digunakan lebih rapat dalam barisan seperti 100 x 50 cm, 125 x 75 cm, 125 x 50 cm dengan tujuan akan dapat mengatasi erosi tanah yang diakibatkan oleh air hujan. Dari hasil kegiatan yang dilakukan penanaman secara larikan dengan jarak tanam 100 x 50 cm.
Sebelum penanaman dibuat lobang tanam 25 x 25 x 25 cm dilakukan pemupukan awal dengan pupuk kandang yang dicampur dengan tanah. Dalam melaksanakan penanaman harus hati-hati jangan sampai tunas yang patah dan rusak, serta penanaman mata yang terbalik.
Pemupukan
Pemupukan adalah pemberikan zat-zat makanan kepada tanaman lewat tanah agar memperoleh produksi hijauan yang tinggi dan kontinyu. Pupuk yang dapat diberikan Urea, TSP dan Kcl, dengan takaran 100 kg Urea ,50 kg TSP, 50 Kg Kcl/ha dan pupuk kandang (kotoran sapi) dengan takaran 10 atau 20 ton/ha yang tergantung kepada tingkat kesuburan tanah. Dalam usaha meminimalkan biaya dan memperbaiki sifat fisika tanah penggunaan pupuk kandang akan lebih baik, disebabkan karena harganya murah, tersidia ditingkat petani. Pupuk kandang adalah limbah ternak yang berasal dari campuran kotoran hewan dalam bentuk organik yang dapat digunakan untuk memperbaiki sifat-sifat tanah dan meningkatkan hasil hjauan makan ternak.
Waktu Pemupukan
Pemberian pupuk kandang dilakukan pada saat tanam, yang diaduk dengan tanah dalam lobang tanam dengan takaran yang telah ditentukan, kemudian setelah hijauan berumur 3 minggu dilakukan pemupukan dengan 100 kg Urea, 50 kg TSP dan 50 kg Kcl/ha. Dari hasil pengkajian yang dilakukan di kenegarian Malampah pada tahun 1997/1998 memperlihatkan pemberian pupuk kandang pada saat tanam lebih baik jika dibandingkan dengan pemberian secara bertitah pada hijauan pakan ternak dengan takaran yang sama, sedangkan untuk pemupukan berikutnya adalah hijauan setelah berumur 6 bulan ( 4 kali panen) pemberian pupuk kandang sangat diperlukan kembali setiap 3 kali panen dengan tujuan .untuk menjamin produksi secara kontinyu.
Penyiangan
Penyiangan adalah pembrantasan terhadap jenis-jenis rumput liar atau tumbuhan-tumbuhan pengganggu tanaman pokok. Ganguan itu dapat berupa saingan terhadap penyerapan zat hara, air, dan cahaya matahari,. Penyiangan dilakukan setelah hijauan berumur satu bulan, dengan tujuan untuk membuang tanaman penggangu serta mengemburkan tanah. Pada garis besarnya ada tiga cara untuk membrantas rumput liar tesebut adalah sebagai berikut
- Mekanis
Yakni penyiangan yang dilakukan dengan cara mencangkul untuk membongkar rumput- rumput liar dan tanaman pengganggu.
- Biologis
Yakni yang dilakukan dengan cara memperbaiki keadaan tanah. Kemudian setelah tanah itu menjadi subur dan bebas weed, dilakukan penanaman dengan jenis tanaman pupuk hijau, sebagai penutup tanah. seperti: Centrosema pubescens, Centrosema plumeri, Puraria Javanica, Calopogonium mucunoides dan lain-lain
- Kimiawi
Yakni dengan mempergunakan herbisida. Cara ini bisa dilakukan dengan cepat tetapi memakan biayanya yang cukup tinggi, bahkan kadang-kadang herbisida sulit diperoleh dipasaran. Herbisida yang dapat digunakan adalah Gramozone, Rond Up Basmilang, Polaris dan lain-lainnya yang disemprotkan diantara barisan hijauan pamak ternak dan penyemprotannya harus lebih hati-hati supaya hijauan tidak kena.
Pemotongan
Untuk menyeragamkan pertumbuhan dan merangsang jumlah anak yang lebih banyak, sebaiknya pemotongan pertama dilakukan pada saat tanaman berumur 2 – 3 bulan sejak tanam, sehingga setiap dalam satu rumpun akan berkembang menjadi 13-24 batang dengan diameter rumpun 25 – 40 cm. Untuk pemotongan selanjutnya dapat dilakukan setiap 40 hari sekali dimusin hujan dan 60 hari dimusim kemarau. Pemotongan yang terlalu tua akan mengakibatkan kandungan protein semakin berkurang dan serat kasar semakin tinggi. Tinggi pemotongan akan mempengaruhi pertumbuhan hijauan selanjutnya, dimana pemotongan yang telalu tinggi akan menyebabkan tunas yang keluar tumbuhnya kerdil, sedangkan pertumbuhan dari anakan tidak bisa berkembang. Pemotongan yang terlalu pendek menyebabkan pertumbuhan berikutnya semakin lambat pula hal ini disebabkan persedian energi (karbohidrat) dan pati yang tinggal pada tunggul terlalu sedikit. Sebagai pedoman tingginya pemotongan pada rumput gajah, benggala, rumput raja, Setaria dianjurkan 10 cm dari permukaan tanah, sedangkan untuk jenis rumput yang berasal dari Australia seperti Paspalum dilatatum sekitar 5 cm.
Pengolahan tanah bertujuan untuk mempersiapkan media/tempat tumbuh yang optimal bagi hijauan pakan ternak, sebab tanah yang diolah akan menjamin perkembangan perakaran yang sempurna, memperbaiki aerasi, kelembaban dan kesuburan tanah, Penanaman pada tanah gembur, tanah diolah atau dicangkul cukup satu kali saja, sedangkan pada keras atau padat tanah perlu diolah beberapa kali dan digaru sampai tanah menjadi gembur, atau pembuatan lobang tanam yang lebih besar sehingga memudahkan perkembangan akar hijauan.
Persiapan bibit.
Bibit yang digunakan berasalah dari pols (sobekan) yang mempunyai sifat rumput harus muda, tegak dan sehat, tinggi sama dalam satu rumpun, panjangnya pols sekitar 10 cm dari permukaan tanah.
Penanaman.
Jarak tanam yang digunakan pada hijauan pakan ternak adalah bermacam-macan dan ini sangat tergantung kepada jenis hijauan, dan topografi lahan. Untuk jenis-jenis hijauan yang tubuh tegak dan berumpun, jarak tanam yang dapat digunakan adalah 60- 90 cm x 45 – 60 atau 100 x l00 cm, sedangkan untuk jenis yang membentuk stolon atau rhizoma maka jarak tanam yang dapat digunakan 90 x 60 cm, 90 x 100 cm atau 100 x 100 cm. Begitu pula pada daerah-daerah datar jarak tanam dapat digunakan adalah 100 x 100 cm. Pada daerah-daerah miring jarak tanam yang digunakan lebih rapat dalam barisan seperti 100 x 50 cm, 125 x 75 cm, 125 x 50 cm dengan tujuan akan dapat mengatasi erosi tanah yang diakibatkan oleh air hujan. Dari hasil kegiatan yang dilakukan penanaman secara larikan dengan jarak tanam 100 x 50 cm.
Sebelum penanaman dibuat lobang tanam 25 x 25 x 25 cm dilakukan pemupukan awal dengan pupuk kandang yang dicampur dengan tanah. Dalam melaksanakan penanaman harus hati-hati jangan sampai tunas yang patah dan rusak, serta penanaman mata yang terbalik.
Pemupukan
Pemupukan adalah pemberikan zat-zat makanan kepada tanaman lewat tanah agar memperoleh produksi hijauan yang tinggi dan kontinyu. Pupuk yang dapat diberikan Urea, TSP dan Kcl, dengan takaran 100 kg Urea ,50 kg TSP, 50 Kg Kcl/ha dan pupuk kandang (kotoran sapi) dengan takaran 10 atau 20 ton/ha yang tergantung kepada tingkat kesuburan tanah. Dalam usaha meminimalkan biaya dan memperbaiki sifat fisika tanah penggunaan pupuk kandang akan lebih baik, disebabkan karena harganya murah, tersidia ditingkat petani. Pupuk kandang adalah limbah ternak yang berasal dari campuran kotoran hewan dalam bentuk organik yang dapat digunakan untuk memperbaiki sifat-sifat tanah dan meningkatkan hasil hjauan makan ternak.
Waktu Pemupukan
Pemberian pupuk kandang dilakukan pada saat tanam, yang diaduk dengan tanah dalam lobang tanam dengan takaran yang telah ditentukan, kemudian setelah hijauan berumur 3 minggu dilakukan pemupukan dengan 100 kg Urea, 50 kg TSP dan 50 kg Kcl/ha. Dari hasil pengkajian yang dilakukan di kenegarian Malampah pada tahun 1997/1998 memperlihatkan pemberian pupuk kandang pada saat tanam lebih baik jika dibandingkan dengan pemberian secara bertitah pada hijauan pakan ternak dengan takaran yang sama, sedangkan untuk pemupukan berikutnya adalah hijauan setelah berumur 6 bulan ( 4 kali panen) pemberian pupuk kandang sangat diperlukan kembali setiap 3 kali panen dengan tujuan .untuk menjamin produksi secara kontinyu.
Penyiangan
Penyiangan adalah pembrantasan terhadap jenis-jenis rumput liar atau tumbuhan-tumbuhan pengganggu tanaman pokok. Ganguan itu dapat berupa saingan terhadap penyerapan zat hara, air, dan cahaya matahari,. Penyiangan dilakukan setelah hijauan berumur satu bulan, dengan tujuan untuk membuang tanaman penggangu serta mengemburkan tanah. Pada garis besarnya ada tiga cara untuk membrantas rumput liar tesebut adalah sebagai berikut
- Mekanis
Yakni penyiangan yang dilakukan dengan cara mencangkul untuk membongkar rumput- rumput liar dan tanaman pengganggu.
- Biologis
Yakni yang dilakukan dengan cara memperbaiki keadaan tanah. Kemudian setelah tanah itu menjadi subur dan bebas weed, dilakukan penanaman dengan jenis tanaman pupuk hijau, sebagai penutup tanah. seperti: Centrosema pubescens, Centrosema plumeri, Puraria Javanica, Calopogonium mucunoides dan lain-lain
- Kimiawi
Yakni dengan mempergunakan herbisida. Cara ini bisa dilakukan dengan cepat tetapi memakan biayanya yang cukup tinggi, bahkan kadang-kadang herbisida sulit diperoleh dipasaran. Herbisida yang dapat digunakan adalah Gramozone, Rond Up Basmilang, Polaris dan lain-lainnya yang disemprotkan diantara barisan hijauan pamak ternak dan penyemprotannya harus lebih hati-hati supaya hijauan tidak kena.
Pemotongan
Untuk menyeragamkan pertumbuhan dan merangsang jumlah anak yang lebih banyak, sebaiknya pemotongan pertama dilakukan pada saat tanaman berumur 2 – 3 bulan sejak tanam, sehingga setiap dalam satu rumpun akan berkembang menjadi 13-24 batang dengan diameter rumpun 25 – 40 cm. Untuk pemotongan selanjutnya dapat dilakukan setiap 40 hari sekali dimusin hujan dan 60 hari dimusim kemarau. Pemotongan yang terlalu tua akan mengakibatkan kandungan protein semakin berkurang dan serat kasar semakin tinggi. Tinggi pemotongan akan mempengaruhi pertumbuhan hijauan selanjutnya, dimana pemotongan yang telalu tinggi akan menyebabkan tunas yang keluar tumbuhnya kerdil, sedangkan pertumbuhan dari anakan tidak bisa berkembang. Pemotongan yang terlalu pendek menyebabkan pertumbuhan berikutnya semakin lambat pula hal ini disebabkan persedian energi (karbohidrat) dan pati yang tinggal pada tunggul terlalu sedikit. Sebagai pedoman tingginya pemotongan pada rumput gajah, benggala, rumput raja, Setaria dianjurkan 10 cm dari permukaan tanah, sedangkan untuk jenis rumput yang berasal dari Australia seperti Paspalum dilatatum sekitar 5 cm.
Jumat, 01 Januari 2010
Kamis, 17 Desember 2009
zat makanan
Zat Makanan
Makanan sehat harus terdiri dari zat-zat nutrien (zat gizi) antara lain :
1. Protein
Mengandung asam amino (essensial dan non essensial). Kebutuhan protein untuk orang dewasa adalah 1 gram/kg.BB/hari. Jika kebutuhan tersebut berlebih, maka kelebihannya akan dibuang melalui ginjal dalam bentuk urea inilah yang disebut Nitrogen Balans.
Asam Amino Essensial adalah asam amino yang tidak dapat dibuat sendiri oleh tubuh, jadi harus didatangkan dari luar.
Misalnya : Leusin, Lisin, Metionin, Fenilalanin, dsb.
Protein tidak menghasilkan energi
2. Lemak (Lipid)
Diperlukan sebagai pelarut beberapa vitamin, sebagai "bantalan lemak" (pelindung jaringan tubuh) dan penghasil energi yang besar (9 kal/g). Kebutuhan lemak untuk orang dewasa adalah 0,5 - 1 gram/kg.BB/hari.
3. Karbohidrat
Sebagai penghasil energi (4 kal/g). Kelebihan karbohidrat dalam tubuh akan disimpan dalam bentuk lemak.
4. Garam-Garam Mineral
- Kalsium (Ca) Untuk membentuk matriks tulang, membantu proses penggumpalan darah dan mempengaruhi penerimaan rangsang oleh saraf. Kebutuhannya adalah 0,8 g/hari.
- Fosfor (P) Untuk membentuk matriks tulang, diperlukan dalam pembelahan sel, pada pengurutan otot, metabolisme zat. Kebutuhannya adalah 1 mg/hari.
- Besi (Fe) Merupakan komponen penting sitokrom (enzim pernafasan), komponen penyusun Hemoglobin. Kebutuhannya adalah 15 - 30 mg/hari.
- Fluor (F) Untuk menguatkan geligi.
- lodium (I) Komponen penting dalam hormon pertumbuhan (Tiroksin), kekurangan unsur tersebut dapat terjadi sebelum atau sesudah pertumbuhan berhenti
- Natrium & Klor (NaCl) Untuk pembentukan asam klorida (HCl). Kebutuhannya adalah 1 g/hari.
5. Vitamin
Diperlukan dalam jumlah yang sangat kecil, tidak menghasilkan energi. Kekurangan vitamin dapat menyebabkan Penyakit Defisiensi.
Vitamin Yang Larut Dalam Air (Water Soluble Vitamins)
- B1 (Aneurin = Thiamin) Untuk mempengaruhi absorbsi lemak dalam usus. Defisiensinya menyebabkan Beri-Beri dan Neuritis.
- B2 (Riboflavin = Laktoflavin) Transmisi rangsang sinar ke mata. Defisiensinya akan mengakibatkan Katarak, Keilosis.
- Asam Nikotin (Niasin) Proses pertumbuhan, perbanyakan sel dan anti pelagra. Defisiensi akan menyebabkan Pelagra dengan gejala 3 D: Dermatitis, Diare, Dimensia.
- B6 (Piridoksin = Adermin) Untuk pergerakan peristaltik usus. Defisiensi akan menyebabkan Kontipasi (Sembelit).
Asam Pantotenat Defisiensi akan menyebabkan Dermatitis
PABA (Para Amino Asam Benzoat) Untuk mencegah timbulnya uban
Kolin Defisiensi akan menimbulkan timbunan lemak pada hati.
Biotin (Vitamin H) Defisiensi akan menimbulkan gangguan kulit
Asam Folat Defisiensi akan menimbulkan Anemia defisiensi asam folat.
B12 (Sianokobalamin) Defisiensi akan menimbulkan Anemia Pernisiosa
Vitamin C (Asam Askorbinat) Berfungsi dalam pembentukan sel, pembuatan trombosit. Defisiensi akan menimbulkan pendarahan gusi, karies gigi, pendarahan di bawah kulit. Pada jeruk selain vitamin C ditemukan pula zat Sitrin dan Rutin yang mampu menghentikan pendarahan. Zat tersebut ditemukan olelj Sant-Gyorgi disebut pula Vitamin P.
Vitamin Yang Larut Dalam Lemak (Lipid Soluble Vitamins)
- Vitamin A (Aseroftol) Berfungsi dalam pertumbuhan sel epitel, mengatur rangsang sinar pada saraf mata. Defisiensi awal akan menimbulkan gejala Hemeralopia (rabun senja) dan Frinoderma (kulit bersisik). Kemudian pada mata akan timbul Bercak Bitot setelah itu mata akan mengering (Xeroftalmia) akhirnya mata akan hancur (Keratomalasi).
- Vitamin D Mengatur kadar kapur dan fosfor, (Kalsiferol = Ergosterol) memperlancar proses Osifikasi. Defisiensi akan menimbulkan Rakhitis. Ditemukan oleh McCollum, Hesz dan Sherman.
- Vitamin E (Tokoferol) Berperan dalam meningkatkan Fertilitas.
- Vitamin K (Anti Hemoragi) Ditemukan oleh Dam dan Schonheydcr. Berfungsi dalam pembentukan protrombin. Dibuat dalam kolon dengan bantuan bakteri Escherichia coli
Makanan sehat harus terdiri dari zat-zat nutrien (zat gizi) antara lain :
1. Protein
Mengandung asam amino (essensial dan non essensial). Kebutuhan protein untuk orang dewasa adalah 1 gram/kg.BB/hari. Jika kebutuhan tersebut berlebih, maka kelebihannya akan dibuang melalui ginjal dalam bentuk urea inilah yang disebut Nitrogen Balans.
Asam Amino Essensial adalah asam amino yang tidak dapat dibuat sendiri oleh tubuh, jadi harus didatangkan dari luar.
Misalnya : Leusin, Lisin, Metionin, Fenilalanin, dsb.
Protein tidak menghasilkan energi
2. Lemak (Lipid)
Diperlukan sebagai pelarut beberapa vitamin, sebagai "bantalan lemak" (pelindung jaringan tubuh) dan penghasil energi yang besar (9 kal/g). Kebutuhan lemak untuk orang dewasa adalah 0,5 - 1 gram/kg.BB/hari.
3. Karbohidrat
Sebagai penghasil energi (4 kal/g). Kelebihan karbohidrat dalam tubuh akan disimpan dalam bentuk lemak.
4. Garam-Garam Mineral
- Kalsium (Ca) Untuk membentuk matriks tulang, membantu proses penggumpalan darah dan mempengaruhi penerimaan rangsang oleh saraf. Kebutuhannya adalah 0,8 g/hari.
- Fosfor (P) Untuk membentuk matriks tulang, diperlukan dalam pembelahan sel, pada pengurutan otot, metabolisme zat. Kebutuhannya adalah 1 mg/hari.
- Besi (Fe) Merupakan komponen penting sitokrom (enzim pernafasan), komponen penyusun Hemoglobin. Kebutuhannya adalah 15 - 30 mg/hari.
- Fluor (F) Untuk menguatkan geligi.
- lodium (I) Komponen penting dalam hormon pertumbuhan (Tiroksin), kekurangan unsur tersebut dapat terjadi sebelum atau sesudah pertumbuhan berhenti
- Natrium & Klor (NaCl) Untuk pembentukan asam klorida (HCl). Kebutuhannya adalah 1 g/hari.
5. Vitamin
Diperlukan dalam jumlah yang sangat kecil, tidak menghasilkan energi. Kekurangan vitamin dapat menyebabkan Penyakit Defisiensi.
Vitamin Yang Larut Dalam Air (Water Soluble Vitamins)
- B1 (Aneurin = Thiamin) Untuk mempengaruhi absorbsi lemak dalam usus. Defisiensinya menyebabkan Beri-Beri dan Neuritis.
- B2 (Riboflavin = Laktoflavin) Transmisi rangsang sinar ke mata. Defisiensinya akan mengakibatkan Katarak, Keilosis.
- Asam Nikotin (Niasin) Proses pertumbuhan, perbanyakan sel dan anti pelagra. Defisiensi akan menyebabkan Pelagra dengan gejala 3 D: Dermatitis, Diare, Dimensia.
- B6 (Piridoksin = Adermin) Untuk pergerakan peristaltik usus. Defisiensi akan menyebabkan Kontipasi (Sembelit).
Asam Pantotenat Defisiensi akan menyebabkan Dermatitis
PABA (Para Amino Asam Benzoat) Untuk mencegah timbulnya uban
Kolin Defisiensi akan menimbulkan timbunan lemak pada hati.
Biotin (Vitamin H) Defisiensi akan menimbulkan gangguan kulit
Asam Folat Defisiensi akan menimbulkan Anemia defisiensi asam folat.
B12 (Sianokobalamin) Defisiensi akan menimbulkan Anemia Pernisiosa
Vitamin C (Asam Askorbinat) Berfungsi dalam pembentukan sel, pembuatan trombosit. Defisiensi akan menimbulkan pendarahan gusi, karies gigi, pendarahan di bawah kulit. Pada jeruk selain vitamin C ditemukan pula zat Sitrin dan Rutin yang mampu menghentikan pendarahan. Zat tersebut ditemukan olelj Sant-Gyorgi disebut pula Vitamin P.
Vitamin Yang Larut Dalam Lemak (Lipid Soluble Vitamins)
- Vitamin A (Aseroftol) Berfungsi dalam pertumbuhan sel epitel, mengatur rangsang sinar pada saraf mata. Defisiensi awal akan menimbulkan gejala Hemeralopia (rabun senja) dan Frinoderma (kulit bersisik). Kemudian pada mata akan timbul Bercak Bitot setelah itu mata akan mengering (Xeroftalmia) akhirnya mata akan hancur (Keratomalasi).
- Vitamin D Mengatur kadar kapur dan fosfor, (Kalsiferol = Ergosterol) memperlancar proses Osifikasi. Defisiensi akan menimbulkan Rakhitis. Ditemukan oleh McCollum, Hesz dan Sherman.
- Vitamin E (Tokoferol) Berperan dalam meningkatkan Fertilitas.
- Vitamin K (Anti Hemoragi) Ditemukan oleh Dam dan Schonheydcr. Berfungsi dalam pembentukan protrombin. Dibuat dalam kolon dengan bantuan bakteri Escherichia coli
Senin, 07 Desember 2009
siklus birahi pada ternak
SIKLUS BERAHI PADA TERNAK
1. PENGERTIAN
Berahi atau estrus atau heat, didefinisikan sebagai periode waktu dimana betina menerima kehadiran pejantan, kawin , atau dengan kata lain dara atau betina sudah aktif aktivitas sexualitasnya. Lamanya waktu siklus berahi dari seekor hewan dihitung dari mulai munculnya berahi, sampai munculnya berahi lagi pada periode berikutnya.
2. PERIODE SIKLUS BERAHI
Lamanya waqktu yang digunakan dalam sertiap periode berbeda-beda dalam setiap spesies.
Tabel.Karakteristik lamanya Periode dari Setiap Bagian Siklus Berahi pada Beberapa Spesies Hewan Ternak (Bearden dan Fuquqy,1980).
SAPI DOMBA KAMBING BABI KUDA
Siklus berahi (hari) 21 17 20 20 22
Metestrus (hari) 3-4 2-3 - - 2-3
Diestrus (hari) 10-14 10-12 - - 10-12
Proestrus (hari) 3-4 2-3 2-3 2-3 2-3
Estrus (jam) 12-18 24-36 24-36 34-38 96-192
A. ESTRUS
Periode ini dapat ditandai dari tingkah laku hewan yang bersangkutan,seperti:
Berusaha menunggangi sapi lain
Vulva membengkak dan dari vulva keluar lendir yang jernih yang biasanya melekat pada bagian pantat atau flankks
Aktivitas fisik meningkat pada hari berahi, sapi keliatan gelisah ingin keluar kandang
Melenguh-lenguh dan pangkal ekor terlihat sedikit terangkat
Pada sapi betina dara, pada waktu berahisering terlihat vulvanya bewarna sedikit kemerah-merahan
Pada sore hari lama berahinya lebih lebih panjang sekitar 2-4 jam. Saat terjadinya ovulasi bila dihubungkan dengan berahi, pada sapi adalah 10-12 jam sesudah akhir berahi,pada doba pada pertengahan akhir berahi, pada babi sekitar pertengahan berahidan pada kuda satu sampai dua hari sebelum berahi berakhir.
B. METESTRUS (POSTESTRUS)
Periode ini ditandai dengan tidak terlihat tau telah terhentinyaberahi. Sel-sel granulosa folikel dibagian bekas ovum yang berevolusi betrtumbuh dengan cepat membentuk corpus luteum (corpora klutea pada hewan yang multipel ovulasi) dibawah pengaruh LH dari Adenohypophysa. Corpus luteum yang terbentuk menghasilkan progesteron, yang menghambatsekresi FSH. Akibatnya pematangan folikel tertier menjadi folikal de Graaf terhenti. Pada saat ini terjadi perubahan pada uterus untuk menyiapkan diri memelihara perkembangan embrio. Pada sapi selama awal metestrus kadang-kadang terlihat pendarahan (haemorrhagi). Pendarahan ini disebabkan karena pecahnya kapiler yang sangat hiperhaemis pada lapisan epitel dinding uterus akibat penurunan estrogen.
C. DIESTRUS
Periode dietrus adalah periode terpanjang diantara keempat periode siklus berahi.
Periode ini terjadi pada hari kelima pada sapi,pada babi dan domba hari keempat, dan hari kedelapan pada kuda. Dalam periode ini corpus luteum sudah berfungsi sepenuhnya. Endometrium menebal, kelenjer dan urat daging uterus berkembanmg untuk merawat embrio dari hasil pembuahan danuntuk pembentukan plasenta. Bila nmemang terjadi pembuahan keadaan ini berlanjut sealama kebuntingan,dan corpus luteum tetap bertahan sampai terjadi kelahiran, dan corpus lutemnya dinamakan corpus luteum gravidatum. Bila tidak terjadi pembuahan, corpus luteum akan beregrasi. Pada sapi regresi corpus luteum terjadi pada hari ke-16 atau 17 siklus berahi.
D. PROESTRUS
Periode ini dimulai dari saat beregrasinya corpus luteum sampai hewan benar-benar berahi. Pada saat ini hewan telah memperlihatkan tanda-tanda berahi,tetapi belum bersedia untuk melakukan kopulasi. Hal ini mungkin disebabkan karena kadar estrogen yang dihasilkan oleh folikel belum cukup untuk memalingkan kehendak betina untuk menerima hewan jantan. Perubahan alat kelamin bagian dalam, terlihan pada ovariumnya, dimana terjadi pertumbuhan folikel yang cepat sekali dari folekel terties menjadi folikel de Graaf. Uterus dan oviductebih banyak mengandung pembuluh darah dari pada biasanya. Kelenjer-kelenjer endo metrium tumbuh memanjang, cervix mulai merilex dan kelenjer-kelenjer lendir mulai bereaksi.
Berdasarkan kadar hormon yang dihasilkan oleh ovarium, beberapa ahli reproduksi membagi siklus berahi atas 2 fase yaitu:
Fase Estrogenik (fase folikel)
Fase ini menggabungkan fase proestrus dan estrus
Fase Prostegenik (fase luteal)
Fase ini menggabungkan fase Etestrus dan diestrus
3. PENGATURAN SIKLUS BERAHI OLEH HORMON
Pada dasrnya siklus berahi diatur oleh oleh keseimbangan antara hormon-hormon steroid dan protein dari ovarium dan hormonp-hormon gonadotropin dari hipopisa anterior. Progesteron mempunyai suatu pengaruih dominan terhadap siklus berahi. Selama periode diestrus, ketika konsentrasi progesteron tinggi, konsentrasi FSH, LH dan sisa total Estrogen relatif rendah. Saat ini pada beberapa spesies dapat dideteksi adanya pertubuhan folikel, tetapi sangat lambat bila dibandingkan bila yang terjadi 2 atau3 hari menjelang terjadinya ovulasi. Demikian juga selama kebuntingan, konsentrasi progesteron yang tinggi menahan pelepasan hormon-hormon gonadotropin ytanng dapat menyebabkan munculnya tingkah laku berahi. Kejadian ini merupakan kontrol dari progesteron terhadap hormon gonadotropin, dengan mekanisme kerja umpan balik negatif.
Pada akhir diestrus, PGF 2-alpha dari uterus menyebabkan tejadinya regresi corpus luteum. Bersamaan dengan ini terlihat konsentrasi progesteron dalam dalah menurun dengan tajam. Penurunan yang tiba-tiba ini menyebabkan timbulnya rangsangan pada hipofisis anteerior, ditambah deangan hilangnya blokade dari progesteron menyebabkan terjadinya pelepasan FSH,LH dan LTH. Dengan bertumbuhnya folikel, terjadi suatu gelombang estrogen yang menyebabkan munculnya keinginan dan tingkah laku berahi,dan merupakan picu terhadap pelepasan LH oleh hipopisis anterior melalui mekanisme umpan balik positif. Setelah terjadinya ovulasi, di bekas tempat ovum yang berevolusi terbentuk corpus luteum. Menjelang hari ke 4 atau 5 siklus, peningkatan progesteron sudah dapat dideteksi, yang merupakan petunjuk dimulainya periode diestrus. LH dengan LTH merawat corpus luteum untuk berfungsi pada hewan ternak. Lh bekerja untuk mempertahankan funsi ini dengan peningkatan aliran darah melalui corpus luteum. Sebaliknya PGF 2-alpha menutup aliran darah ke corpus luteum yang menyebabkan tidak terjadinya sintesis progestin oleh corpus luteum, dan regresi corpus luteum.
4. PENGENDALIAN BERAHI
Pengendalian berahi adalah adalah usaha manusia agar sekelompok hewan mengalami berahi sesuai dengan waktu yang diinginkan. Penyerentakan berahi dilakukan dengan tujuan efisiensi dan penyesuaian produksi dengan kebutuhan pasar.
Beberapa metoda pengendalian berahi yang telah dicobakan pada ternak antara lain:
a. Penyingkiran korpus luteum (enukleasi corpus luteum)
Melalui palpasi rektal corpus luteum disingkirkan melalui ovarium, dan dijatuhkan kedalam rongga perut. Bila corpus luteum telah tersingkir, hambatan progesteron terhadap pelepasan hormon-hormon gonadotropin tidak terjadi lagi, sehingga terjadi pertumbuhan folikel, berahio dan ovulasi. Namun cara ini berdampak terjadinya adhesio atau pendarahan corpus luteum.
b. Penyuntikan hormon Gonadotropin
Cara ini dilkukan untuk merangsang pertumbuhan folikel, sehingga timbul keadaan berahi dan ovulasi. Gonadotropin disintesis oleh hewan lain. Bila PMS diberikan sebelumperiode berahi normal, kemungkinan akan diikuti oleh ovulasi lipat ganda, dan kemungkinan juga akan menghasilkan pembuahan lipat ganda.
c. Penggunaan hormon Progesteron
Progesteron merupakan blokterhadap pembebasan hormon gonadotropin, yang menyebabkan hewan tetap berada dalam keadaan anesterus karena tidak terjadi pertumbuhan folikel. Jika progesteron digunakan untuk penyerentakan berahi, dosisnya berayun antara 12.5 sampai 60 mg, dan disuntikkan secara intramuskuler tiap hari. Berahi akan muncul 3 sampai 6 hari setelah suntikan dihentikan. Hasilnya terjadi konsepsi 25 sampai 70% bila sapi yang berahi diinmseminasi.
Pemberian progesteron dengan menyelipkan spons yang mengandung progesteron ke dalam vagina selama 10 sampai 14 hari menghasilkan angka konsoopsi yang rendahbila hewan dikawinkan kepada periode berahi setelah spons ditarik keluar.
d. Penyuntikan hormon Esterogen
Digunakan pada ternak yang mengalami hipofungsi ovarium. Bila esterogen diberikan dalam jumlah kecil dapat menyebabkan terjadinya berahi dan ovulasi. Esterogen dalam jumlah kecil secara umpan baljk positif, bekerja meningkatkan LH, yang diperlukan untuk terjadinya ovulasi.
e. Penyuntikan PGF-2alpha
Pemberian PGF-2alpha untuk pengendalian berahi hanya bisa dilakukan kalau corpus luteum sudah terbentuk. Penyuntikan 1x peluang berahinya hanya 80% yaitu 12/20 *100% + 4/20*100% = 80% yang mana 12/20 didapatkan dari keberadaan corpus luteum, yaitu hari ke 5 sampai hari 16 siklus berahi, sedangkan 4/20 adalah periode proesterus, yaitu pada hari ke 17 sampai hari 20 siklus berahi. Agar semua hewan dapat berahi dalam periode waktu yang hampir bersamaan dilakukan penyuntikan kedua, yaitu 11 atau 12 hari setelah penyuntikan pertama. Hewan yang tidak punya corpus luteum pada penyuntuikan pertama’ pada 11 atau 12 hari kemudian sudak punya corpus luteum. Dosis PGf-2alpha untuk sapi 5-10 mg perekor melalui intrauterinum dan 30-35 mg melalui intamuskuler.
Beberapa contoh siklus bertahi pada hewan ternak:
1. KAMBING
Tanda-tanda birahi ternak betina adalah:
- Sering mengibas-ibaskan ekornya-
- Geliasah, nafsu makan berkurang-
- Bibir kelamin luar membengkak, basah berlendir, dan berwarna kemerahan
- Suka menaiki temannya
Lama waktu birahi ternak betina : 1-2 hari. Siklus birahi/ munculnya birahi ternak betina setiap 19-20 hari.
PERKAWINAN
Syarat ternak dikawinkan :
- Sudah mengalami dewasa tubuh atau sudah berumur lebih dari 12 bulan atau telah mencapai beret badan ±25 kg untuk jantan dan ±20 kg untuk betina.
- Ternak betina sudah menampakkan tanda-tanda birahi.
A.Kebuntingan
Kebuntingan pada ternak kambing berlangsung selama 150-152 hari atau ± 5 bulan.
Tanda-tanda kebuntingan pada ternak kambing adalah sebagai berikut :
- Tidak munculnya birahi pada siklus birahi berikutnya
- Lebih tenang dan menghindar jika dinaiki temannya
- Ambing tampak menurun dan nafsu makan bertambah
- Perut sebelah kanan terlihat membesar
- Bulu tampak lebih mengkilat (klimis)
B.Kelahiran
Ciri-ciri kambing melahirkan dan perlu mendapat penanganan kelahiran
Perkiraan kelahiran 2 kali dalam setahun.Bersihkan alat dan daerah kelamin dengan sabun
Bersihkan tangan dan olesi dengan sabun sebagai pelumas
Masukkan tangan posisi menguncup kedalam alat kelamin
Pastikan posisi tubuh anak normal
Kalau tidak normal pindahkan ke posisi yang benar
Perawatan anak yang baru lahir
C. PenyapihanDilakukan pada umur 2 bulan
Tetap diberi susu melalui botol/dot 3 kali sehari
Mulai diajari makan rumput
Dilakukan pada umur 2 bulan
Tetap diberi susu melalui botol/dot 3 kali sehari
Mulai diajari makan rumput
2. DOMBA
PENYIAPAN PEJANTAN
Untuk perkawinan ini diperlukan pejantan yang sehat dan subur serta agresif. Perlu dilakukan pemeriksaan terhadap organ reproduksi pejantan meliputi testis yang besar dan bentuknya sama antara buah pelir kiri dan kanan serta mempunyai penis yang kokoh dan normal. Kaki kokoh dan tidak cacat. Pejantan ini bila didekatkan dengan betina dia tidak terlihat sangat agresif. Pejantan ini harus diberi makan yang cukup baik agar dapat melaksanakan tugasnya mengawini banyak betina (kurang lebih 20 ekor betina). Letakan pejantan ini dikandang yang jauh dari kandang betina yang akan dikawinkan. Kurang lebih 30 m jauhnya, sehingga memungkinkan dititipkan di kandang
tetangga.
MASA PERKAWINAN
Betina yang normal masa birahinya bersiklus setiap 15-17 hari. Satukan pejantan yang telah disiapkan dengan betina yang juga telah disiapkan selama 2 siklus birahi. Pada hari pertama penyatuan antara betina dan pejantan ini, biasanya pejantan sangat agresif mengejar betina. Sementara biasanya betina belum ada yang birahi. Biarkan saja hal tersebut terjadi. Biasanya pada hari ketiga betina mulai tampak ada yang birahi dan mengejar-ngejar pejantan. Makanan pada saat ini harus cukup dan baik agar tidak ada ternak yang kelaparan dan kekurangan makan karena konsentrasi ternak terhadap makanan biasa kurang pada saat ini. Dengan demikian perlu upaya khusus agar makanan tetap ada dalam tempat makanannya. Setelah hari ke 34, ternak jantan dapat dikeluarkan, ditukarkan dengan pejantan tetangga yang sama baiknya. Kalau saat itu harga ternak baik dapat juga ternak ini dijual. Namun berarti untuk keperluan perkawinan yang akan datang kita perlu mencari lagi pejantan lain yang lebih baik.
PERAWATAN SELAMA KEBUNTINGAN
Dengan sistem penyerentakan birahi ini, umur kebuntingan kelompok ternak ini akan relatif sama, sehingga fase fisiologisnya juga sama. Dengan demikian perawatan selama kebuntingan menjadi lebih mudah karena kebutuhan pakan baik kualitas maupun kuantitas antara individu ternak yang satu dengan yang lainnya relatif sama. Pada saat kebuntingan induk memerlukan tingkat protein yang lebih tinggi. Untuk itu saat ini perlu diberikan 3 bagian rumput dan tiga bagian dedaunan . berat tubuh induk harus terus bertambah pada saat kebuntingan ini. Masa kebuntingan seekor ternak domba adalah sekitar 150 hari. Sekitar 6 minggu sebelum beranak kualitas pakan harus lebih ditingkatkan lagi. Untuk itu perlu ditambah dengan biji-bijian atau dedak padi sebanyak 2-3 gelas per ekor per hari. Pada saat ini ternak yang tidak bunting sudah dapat terlihat jelas. Dengan demikian ternak-ternak yang tidak bunting ini dikeluarkan dari kelompok ini. Beri pakan yang lebih rendah kualitasnya agar tidak terjadi pemborosan atau dapat juga dijual.
PERAWATAN SELAMA KELAHIRAN
Sekitar 150 hari setelah ternak dikawinkan maka kelompok ternak ini akan mulai menunjukan tanda-tanda kelahiran yaitu vulva membengkak mengeluarkan cairan bening yang kental, ternak mulai gelisah dan menggaruk-garuk lantai. Pada saat ini perlu perhatian khusus, untuk membantu apabila ada ternak yang mengalami kesulitan kelahiran, atau induk yang tidak mau menyusui anaknya. Ternak yang sudah beranak segera masukan ke dalam sekat dengan luas 1 x 1 m2, agar induk dan anak mempunyai hubungan khusus, tidak terganggu oleh induk lainnya. Biarkan dalam kandang bersekat ini selama tiga hari. Beri pakan secukupnya. Setelah tiga hari dapat digabungkan kembali dengan ternak lainnya.
Beda kambing vs domba
Apa perbedaan kambing dan domba? Sebagai orang awam, kita biasanya dengan cepat mengemukakan dua perbedaan utama antara kambing dan domba. Perbedaan utama antara kambing dan domba adalah pada bulu dan tanduknya. Memang, dua perbedaan inilah yang paling mudah dikenali dengan pengamatan langsung. Bulu kambing lurus, sedangkan bulu domba keriting. Tanduk kambing lurus atau agak melengkung ke belakang, sementara tanduk domba melengkung ke belakang dan berpilin.
Namun demikian, dari kajian yang lebih bersifat ilmiah, kambing dan domba tidak hanya berbeda dalam dua aspek saja. Secara fisik, daging kambing dan domba sama saja. Karena itu, orang awam biasanya tidak tahu mana daging kambing dan mana daging domba. Sebenarnya, daging kambing berwarna lebih merah dan aromanya lebih tajam daripada daging domba. Daging kambing lebih enak dan gurih daripada daging domba berkat perbandingan antara protein dan lemak yang tinggi, yaitu 1 banding 8. Bandingkan dengan daging sapi yang hanya 1 banding 3. Lemak daging kambing juga lebih keras dan putih dibandingkan dengan lemak daging domba.
Domba juga lebih suka bergerombol dibandingkan dengan kambing. Domba biasanya merumput pada pagi dan sore hari. Sebaliknya, kambing merumput sepanjang hari. Selanjutnya, siklus birahi domba 16 sampai 17 hari, sedangkan kambing 19 sampai 21 hari. Lama birahi domba 30 jam, sementara kambing 24 sampai 36 jam. Birahi pertama domba terjadi pada umur 8 sampai 10 bulan, sedangkan kambing pada umur 10 sampai 12 bulan. Perkawinan pertama domba terjadi pada umur 18 bulan, sementara kambing pada umur 10 sampai 12 bulan. Kalau masa bunting domba berlangsung selama 141 sampai 159 hari, masa bunting kambing berlangsung selama 147 hari. Yang terakhir, kadar lemak jenuh atau lemak yang merusak kesehatan pada daging kambing lebih rendah daripada kadar lemak jenuh daging domba. Mungkin hal inilah yang membuat harga domba lebih murah daripada harga kambing.
karena adanya variasi lamanya berahi.
3. SAPI
Tanda - tanda birahi pada sapi betina adalah :
- ternak gelisah
- sering berteriak
- suka menaiki dan dinaiki sesamanya
- vulva : bengkak, berwarna merah, bila diraba terasa hangat (3 A dalam bahasa Jawa: abang, abuh, anget, atau 3 B
dalam bahasa Sunda: Beureum, Bareuh, Baseuh)
- dari vulva keluar lendir yang bening dan tidak berwarna
- nafsu makan berkurangGejala - gejala birahi ini memang harus diperhatikan minimal 2 kali sehari oleh pemilik ternak.
Jika tanda-tanda birahi sudah muncul maka pemilik ternak tersebut tidak boleh menunda laporan kepada petugas
Betina-betina yang berahi mempunyai vulva yang lembab, lender bening seringkali nampak keluar dari vulva. Betina yang dalam fase lain dalam siklus berahi bisa jadi menaiki betina lain, tetapi tidak mau jika dinaiki, oleh karena itu betina diam dinaiki merupakan tanda tunggal yang kuat bahwa betina dalam keadaan berahi.
Jika seekor betina memasuki siklus berahi, manakala betina tersebut dalam keadaan fertile, dimana betina ini berovulasi atau melepas sel telur dari ovariumnya.
Waktu terbaik unatu menginseminasi dalah jika betina dalam keadaan standing heat, yaitu sebelum terjadi ovulasi.
Satu hal yang dianjurkan untuk mengadakan pendeteksian berahi adalah denga cara menempatkan sapi-sapi dara atau induk pada sebuah padang penggembalaan deteksi berahi. Padang penggembalaan ini seyogyanya cukup luas, memungkinkan betina-betina bisa kesana-kemasi dan bebas merumput, namun juga tidak terlalu luas, sehingga operator dapat mengadakan deteksi berahi dengan mudah.
Satu kunci sukses dalam deteksi berahi adalah lamanya waktu untuk mengamati betina-betina, memeriksa tanda-tanda berahi, adalah dianjurkan bagi operator meluangkan waktu selama minimal 30 menit pada pagi hari dan 30 menit pada sore hari. Operator juga dianjurkan memperhatikan betina-betina pada waktu-waktu yang sama setiap hari. Jadi, mempelajari mengenal tanda-tanda berahi dan mengetahuinya betina-betina yang sedang berahi merupakan kunci suksesnya satu program IB.
Catatan . Khususnya bagi peternakan sapi berskala kecil, sebagaimana yang ada di Jawa Timur pada umumnya, maka detksi berahi secara visual efektif setiap hari pada pagi dan sore hari bersamaan dengan waktu pemerahan susu atau kegiatan rutin lainnya.
1. PENGERTIAN
Berahi atau estrus atau heat, didefinisikan sebagai periode waktu dimana betina menerima kehadiran pejantan, kawin , atau dengan kata lain dara atau betina sudah aktif aktivitas sexualitasnya. Lamanya waktu siklus berahi dari seekor hewan dihitung dari mulai munculnya berahi, sampai munculnya berahi lagi pada periode berikutnya.
2. PERIODE SIKLUS BERAHI
Lamanya waqktu yang digunakan dalam sertiap periode berbeda-beda dalam setiap spesies.
Tabel.Karakteristik lamanya Periode dari Setiap Bagian Siklus Berahi pada Beberapa Spesies Hewan Ternak (Bearden dan Fuquqy,1980).
SAPI DOMBA KAMBING BABI KUDA
Siklus berahi (hari) 21 17 20 20 22
Metestrus (hari) 3-4 2-3 - - 2-3
Diestrus (hari) 10-14 10-12 - - 10-12
Proestrus (hari) 3-4 2-3 2-3 2-3 2-3
Estrus (jam) 12-18 24-36 24-36 34-38 96-192
A. ESTRUS
Periode ini dapat ditandai dari tingkah laku hewan yang bersangkutan,seperti:
Berusaha menunggangi sapi lain
Vulva membengkak dan dari vulva keluar lendir yang jernih yang biasanya melekat pada bagian pantat atau flankks
Aktivitas fisik meningkat pada hari berahi, sapi keliatan gelisah ingin keluar kandang
Melenguh-lenguh dan pangkal ekor terlihat sedikit terangkat
Pada sapi betina dara, pada waktu berahisering terlihat vulvanya bewarna sedikit kemerah-merahan
Pada sore hari lama berahinya lebih lebih panjang sekitar 2-4 jam. Saat terjadinya ovulasi bila dihubungkan dengan berahi, pada sapi adalah 10-12 jam sesudah akhir berahi,pada doba pada pertengahan akhir berahi, pada babi sekitar pertengahan berahidan pada kuda satu sampai dua hari sebelum berahi berakhir.
B. METESTRUS (POSTESTRUS)
Periode ini ditandai dengan tidak terlihat tau telah terhentinyaberahi. Sel-sel granulosa folikel dibagian bekas ovum yang berevolusi betrtumbuh dengan cepat membentuk corpus luteum (corpora klutea pada hewan yang multipel ovulasi) dibawah pengaruh LH dari Adenohypophysa. Corpus luteum yang terbentuk menghasilkan progesteron, yang menghambatsekresi FSH. Akibatnya pematangan folikel tertier menjadi folikal de Graaf terhenti. Pada saat ini terjadi perubahan pada uterus untuk menyiapkan diri memelihara perkembangan embrio. Pada sapi selama awal metestrus kadang-kadang terlihat pendarahan (haemorrhagi). Pendarahan ini disebabkan karena pecahnya kapiler yang sangat hiperhaemis pada lapisan epitel dinding uterus akibat penurunan estrogen.
C. DIESTRUS
Periode dietrus adalah periode terpanjang diantara keempat periode siklus berahi.
Periode ini terjadi pada hari kelima pada sapi,pada babi dan domba hari keempat, dan hari kedelapan pada kuda. Dalam periode ini corpus luteum sudah berfungsi sepenuhnya. Endometrium menebal, kelenjer dan urat daging uterus berkembanmg untuk merawat embrio dari hasil pembuahan danuntuk pembentukan plasenta. Bila nmemang terjadi pembuahan keadaan ini berlanjut sealama kebuntingan,dan corpus luteum tetap bertahan sampai terjadi kelahiran, dan corpus lutemnya dinamakan corpus luteum gravidatum. Bila tidak terjadi pembuahan, corpus luteum akan beregrasi. Pada sapi regresi corpus luteum terjadi pada hari ke-16 atau 17 siklus berahi.
D. PROESTRUS
Periode ini dimulai dari saat beregrasinya corpus luteum sampai hewan benar-benar berahi. Pada saat ini hewan telah memperlihatkan tanda-tanda berahi,tetapi belum bersedia untuk melakukan kopulasi. Hal ini mungkin disebabkan karena kadar estrogen yang dihasilkan oleh folikel belum cukup untuk memalingkan kehendak betina untuk menerima hewan jantan. Perubahan alat kelamin bagian dalam, terlihan pada ovariumnya, dimana terjadi pertumbuhan folikel yang cepat sekali dari folekel terties menjadi folikel de Graaf. Uterus dan oviductebih banyak mengandung pembuluh darah dari pada biasanya. Kelenjer-kelenjer endo metrium tumbuh memanjang, cervix mulai merilex dan kelenjer-kelenjer lendir mulai bereaksi.
Berdasarkan kadar hormon yang dihasilkan oleh ovarium, beberapa ahli reproduksi membagi siklus berahi atas 2 fase yaitu:
Fase Estrogenik (fase folikel)
Fase ini menggabungkan fase proestrus dan estrus
Fase Prostegenik (fase luteal)
Fase ini menggabungkan fase Etestrus dan diestrus
3. PENGATURAN SIKLUS BERAHI OLEH HORMON
Pada dasrnya siklus berahi diatur oleh oleh keseimbangan antara hormon-hormon steroid dan protein dari ovarium dan hormonp-hormon gonadotropin dari hipopisa anterior. Progesteron mempunyai suatu pengaruih dominan terhadap siklus berahi. Selama periode diestrus, ketika konsentrasi progesteron tinggi, konsentrasi FSH, LH dan sisa total Estrogen relatif rendah. Saat ini pada beberapa spesies dapat dideteksi adanya pertubuhan folikel, tetapi sangat lambat bila dibandingkan bila yang terjadi 2 atau3 hari menjelang terjadinya ovulasi. Demikian juga selama kebuntingan, konsentrasi progesteron yang tinggi menahan pelepasan hormon-hormon gonadotropin ytanng dapat menyebabkan munculnya tingkah laku berahi. Kejadian ini merupakan kontrol dari progesteron terhadap hormon gonadotropin, dengan mekanisme kerja umpan balik negatif.
Pada akhir diestrus, PGF 2-alpha dari uterus menyebabkan tejadinya regresi corpus luteum. Bersamaan dengan ini terlihat konsentrasi progesteron dalam dalah menurun dengan tajam. Penurunan yang tiba-tiba ini menyebabkan timbulnya rangsangan pada hipofisis anteerior, ditambah deangan hilangnya blokade dari progesteron menyebabkan terjadinya pelepasan FSH,LH dan LTH. Dengan bertumbuhnya folikel, terjadi suatu gelombang estrogen yang menyebabkan munculnya keinginan dan tingkah laku berahi,dan merupakan picu terhadap pelepasan LH oleh hipopisis anterior melalui mekanisme umpan balik positif. Setelah terjadinya ovulasi, di bekas tempat ovum yang berevolusi terbentuk corpus luteum. Menjelang hari ke 4 atau 5 siklus, peningkatan progesteron sudah dapat dideteksi, yang merupakan petunjuk dimulainya periode diestrus. LH dengan LTH merawat corpus luteum untuk berfungsi pada hewan ternak. Lh bekerja untuk mempertahankan funsi ini dengan peningkatan aliran darah melalui corpus luteum. Sebaliknya PGF 2-alpha menutup aliran darah ke corpus luteum yang menyebabkan tidak terjadinya sintesis progestin oleh corpus luteum, dan regresi corpus luteum.
4. PENGENDALIAN BERAHI
Pengendalian berahi adalah adalah usaha manusia agar sekelompok hewan mengalami berahi sesuai dengan waktu yang diinginkan. Penyerentakan berahi dilakukan dengan tujuan efisiensi dan penyesuaian produksi dengan kebutuhan pasar.
Beberapa metoda pengendalian berahi yang telah dicobakan pada ternak antara lain:
a. Penyingkiran korpus luteum (enukleasi corpus luteum)
Melalui palpasi rektal corpus luteum disingkirkan melalui ovarium, dan dijatuhkan kedalam rongga perut. Bila corpus luteum telah tersingkir, hambatan progesteron terhadap pelepasan hormon-hormon gonadotropin tidak terjadi lagi, sehingga terjadi pertumbuhan folikel, berahio dan ovulasi. Namun cara ini berdampak terjadinya adhesio atau pendarahan corpus luteum.
b. Penyuntikan hormon Gonadotropin
Cara ini dilkukan untuk merangsang pertumbuhan folikel, sehingga timbul keadaan berahi dan ovulasi. Gonadotropin disintesis oleh hewan lain. Bila PMS diberikan sebelumperiode berahi normal, kemungkinan akan diikuti oleh ovulasi lipat ganda, dan kemungkinan juga akan menghasilkan pembuahan lipat ganda.
c. Penggunaan hormon Progesteron
Progesteron merupakan blokterhadap pembebasan hormon gonadotropin, yang menyebabkan hewan tetap berada dalam keadaan anesterus karena tidak terjadi pertumbuhan folikel. Jika progesteron digunakan untuk penyerentakan berahi, dosisnya berayun antara 12.5 sampai 60 mg, dan disuntikkan secara intramuskuler tiap hari. Berahi akan muncul 3 sampai 6 hari setelah suntikan dihentikan. Hasilnya terjadi konsepsi 25 sampai 70% bila sapi yang berahi diinmseminasi.
Pemberian progesteron dengan menyelipkan spons yang mengandung progesteron ke dalam vagina selama 10 sampai 14 hari menghasilkan angka konsoopsi yang rendahbila hewan dikawinkan kepada periode berahi setelah spons ditarik keluar.
d. Penyuntikan hormon Esterogen
Digunakan pada ternak yang mengalami hipofungsi ovarium. Bila esterogen diberikan dalam jumlah kecil dapat menyebabkan terjadinya berahi dan ovulasi. Esterogen dalam jumlah kecil secara umpan baljk positif, bekerja meningkatkan LH, yang diperlukan untuk terjadinya ovulasi.
e. Penyuntikan PGF-2alpha
Pemberian PGF-2alpha untuk pengendalian berahi hanya bisa dilakukan kalau corpus luteum sudah terbentuk. Penyuntikan 1x peluang berahinya hanya 80% yaitu 12/20 *100% + 4/20*100% = 80% yang mana 12/20 didapatkan dari keberadaan corpus luteum, yaitu hari ke 5 sampai hari 16 siklus berahi, sedangkan 4/20 adalah periode proesterus, yaitu pada hari ke 17 sampai hari 20 siklus berahi. Agar semua hewan dapat berahi dalam periode waktu yang hampir bersamaan dilakukan penyuntikan kedua, yaitu 11 atau 12 hari setelah penyuntikan pertama. Hewan yang tidak punya corpus luteum pada penyuntuikan pertama’ pada 11 atau 12 hari kemudian sudak punya corpus luteum. Dosis PGf-2alpha untuk sapi 5-10 mg perekor melalui intrauterinum dan 30-35 mg melalui intamuskuler.
Beberapa contoh siklus bertahi pada hewan ternak:
1. KAMBING
Tanda-tanda birahi ternak betina adalah:
- Sering mengibas-ibaskan ekornya-
- Geliasah, nafsu makan berkurang-
- Bibir kelamin luar membengkak, basah berlendir, dan berwarna kemerahan
- Suka menaiki temannya
Lama waktu birahi ternak betina : 1-2 hari. Siklus birahi/ munculnya birahi ternak betina setiap 19-20 hari.
PERKAWINAN
Syarat ternak dikawinkan :
- Sudah mengalami dewasa tubuh atau sudah berumur lebih dari 12 bulan atau telah mencapai beret badan ±25 kg untuk jantan dan ±20 kg untuk betina.
- Ternak betina sudah menampakkan tanda-tanda birahi.
A.Kebuntingan
Kebuntingan pada ternak kambing berlangsung selama 150-152 hari atau ± 5 bulan.
Tanda-tanda kebuntingan pada ternak kambing adalah sebagai berikut :
- Tidak munculnya birahi pada siklus birahi berikutnya
- Lebih tenang dan menghindar jika dinaiki temannya
- Ambing tampak menurun dan nafsu makan bertambah
- Perut sebelah kanan terlihat membesar
- Bulu tampak lebih mengkilat (klimis)
B.Kelahiran
Ciri-ciri kambing melahirkan dan perlu mendapat penanganan kelahiran
Perkiraan kelahiran 2 kali dalam setahun.Bersihkan alat dan daerah kelamin dengan sabun
Bersihkan tangan dan olesi dengan sabun sebagai pelumas
Masukkan tangan posisi menguncup kedalam alat kelamin
Pastikan posisi tubuh anak normal
Kalau tidak normal pindahkan ke posisi yang benar
Perawatan anak yang baru lahir
C. PenyapihanDilakukan pada umur 2 bulan
Tetap diberi susu melalui botol/dot 3 kali sehari
Mulai diajari makan rumput
Dilakukan pada umur 2 bulan
Tetap diberi susu melalui botol/dot 3 kali sehari
Mulai diajari makan rumput
2. DOMBA
PENYIAPAN PEJANTAN
Untuk perkawinan ini diperlukan pejantan yang sehat dan subur serta agresif. Perlu dilakukan pemeriksaan terhadap organ reproduksi pejantan meliputi testis yang besar dan bentuknya sama antara buah pelir kiri dan kanan serta mempunyai penis yang kokoh dan normal. Kaki kokoh dan tidak cacat. Pejantan ini bila didekatkan dengan betina dia tidak terlihat sangat agresif. Pejantan ini harus diberi makan yang cukup baik agar dapat melaksanakan tugasnya mengawini banyak betina (kurang lebih 20 ekor betina). Letakan pejantan ini dikandang yang jauh dari kandang betina yang akan dikawinkan. Kurang lebih 30 m jauhnya, sehingga memungkinkan dititipkan di kandang
tetangga.
MASA PERKAWINAN
Betina yang normal masa birahinya bersiklus setiap 15-17 hari. Satukan pejantan yang telah disiapkan dengan betina yang juga telah disiapkan selama 2 siklus birahi. Pada hari pertama penyatuan antara betina dan pejantan ini, biasanya pejantan sangat agresif mengejar betina. Sementara biasanya betina belum ada yang birahi. Biarkan saja hal tersebut terjadi. Biasanya pada hari ketiga betina mulai tampak ada yang birahi dan mengejar-ngejar pejantan. Makanan pada saat ini harus cukup dan baik agar tidak ada ternak yang kelaparan dan kekurangan makan karena konsentrasi ternak terhadap makanan biasa kurang pada saat ini. Dengan demikian perlu upaya khusus agar makanan tetap ada dalam tempat makanannya. Setelah hari ke 34, ternak jantan dapat dikeluarkan, ditukarkan dengan pejantan tetangga yang sama baiknya. Kalau saat itu harga ternak baik dapat juga ternak ini dijual. Namun berarti untuk keperluan perkawinan yang akan datang kita perlu mencari lagi pejantan lain yang lebih baik.
PERAWATAN SELAMA KEBUNTINGAN
Dengan sistem penyerentakan birahi ini, umur kebuntingan kelompok ternak ini akan relatif sama, sehingga fase fisiologisnya juga sama. Dengan demikian perawatan selama kebuntingan menjadi lebih mudah karena kebutuhan pakan baik kualitas maupun kuantitas antara individu ternak yang satu dengan yang lainnya relatif sama. Pada saat kebuntingan induk memerlukan tingkat protein yang lebih tinggi. Untuk itu saat ini perlu diberikan 3 bagian rumput dan tiga bagian dedaunan . berat tubuh induk harus terus bertambah pada saat kebuntingan ini. Masa kebuntingan seekor ternak domba adalah sekitar 150 hari. Sekitar 6 minggu sebelum beranak kualitas pakan harus lebih ditingkatkan lagi. Untuk itu perlu ditambah dengan biji-bijian atau dedak padi sebanyak 2-3 gelas per ekor per hari. Pada saat ini ternak yang tidak bunting sudah dapat terlihat jelas. Dengan demikian ternak-ternak yang tidak bunting ini dikeluarkan dari kelompok ini. Beri pakan yang lebih rendah kualitasnya agar tidak terjadi pemborosan atau dapat juga dijual.
PERAWATAN SELAMA KELAHIRAN
Sekitar 150 hari setelah ternak dikawinkan maka kelompok ternak ini akan mulai menunjukan tanda-tanda kelahiran yaitu vulva membengkak mengeluarkan cairan bening yang kental, ternak mulai gelisah dan menggaruk-garuk lantai. Pada saat ini perlu perhatian khusus, untuk membantu apabila ada ternak yang mengalami kesulitan kelahiran, atau induk yang tidak mau menyusui anaknya. Ternak yang sudah beranak segera masukan ke dalam sekat dengan luas 1 x 1 m2, agar induk dan anak mempunyai hubungan khusus, tidak terganggu oleh induk lainnya. Biarkan dalam kandang bersekat ini selama tiga hari. Beri pakan secukupnya. Setelah tiga hari dapat digabungkan kembali dengan ternak lainnya.
Beda kambing vs domba
Apa perbedaan kambing dan domba? Sebagai orang awam, kita biasanya dengan cepat mengemukakan dua perbedaan utama antara kambing dan domba. Perbedaan utama antara kambing dan domba adalah pada bulu dan tanduknya. Memang, dua perbedaan inilah yang paling mudah dikenali dengan pengamatan langsung. Bulu kambing lurus, sedangkan bulu domba keriting. Tanduk kambing lurus atau agak melengkung ke belakang, sementara tanduk domba melengkung ke belakang dan berpilin.
Namun demikian, dari kajian yang lebih bersifat ilmiah, kambing dan domba tidak hanya berbeda dalam dua aspek saja. Secara fisik, daging kambing dan domba sama saja. Karena itu, orang awam biasanya tidak tahu mana daging kambing dan mana daging domba. Sebenarnya, daging kambing berwarna lebih merah dan aromanya lebih tajam daripada daging domba. Daging kambing lebih enak dan gurih daripada daging domba berkat perbandingan antara protein dan lemak yang tinggi, yaitu 1 banding 8. Bandingkan dengan daging sapi yang hanya 1 banding 3. Lemak daging kambing juga lebih keras dan putih dibandingkan dengan lemak daging domba.
Domba juga lebih suka bergerombol dibandingkan dengan kambing. Domba biasanya merumput pada pagi dan sore hari. Sebaliknya, kambing merumput sepanjang hari. Selanjutnya, siklus birahi domba 16 sampai 17 hari, sedangkan kambing 19 sampai 21 hari. Lama birahi domba 30 jam, sementara kambing 24 sampai 36 jam. Birahi pertama domba terjadi pada umur 8 sampai 10 bulan, sedangkan kambing pada umur 10 sampai 12 bulan. Perkawinan pertama domba terjadi pada umur 18 bulan, sementara kambing pada umur 10 sampai 12 bulan. Kalau masa bunting domba berlangsung selama 141 sampai 159 hari, masa bunting kambing berlangsung selama 147 hari. Yang terakhir, kadar lemak jenuh atau lemak yang merusak kesehatan pada daging kambing lebih rendah daripada kadar lemak jenuh daging domba. Mungkin hal inilah yang membuat harga domba lebih murah daripada harga kambing.
karena adanya variasi lamanya berahi.
3. SAPI
Tanda - tanda birahi pada sapi betina adalah :
- ternak gelisah
- sering berteriak
- suka menaiki dan dinaiki sesamanya
- vulva : bengkak, berwarna merah, bila diraba terasa hangat (3 A dalam bahasa Jawa: abang, abuh, anget, atau 3 B
dalam bahasa Sunda: Beureum, Bareuh, Baseuh)
- dari vulva keluar lendir yang bening dan tidak berwarna
- nafsu makan berkurangGejala - gejala birahi ini memang harus diperhatikan minimal 2 kali sehari oleh pemilik ternak.
Jika tanda-tanda birahi sudah muncul maka pemilik ternak tersebut tidak boleh menunda laporan kepada petugas
Betina-betina yang berahi mempunyai vulva yang lembab, lender bening seringkali nampak keluar dari vulva. Betina yang dalam fase lain dalam siklus berahi bisa jadi menaiki betina lain, tetapi tidak mau jika dinaiki, oleh karena itu betina diam dinaiki merupakan tanda tunggal yang kuat bahwa betina dalam keadaan berahi.
Jika seekor betina memasuki siklus berahi, manakala betina tersebut dalam keadaan fertile, dimana betina ini berovulasi atau melepas sel telur dari ovariumnya.
Waktu terbaik unatu menginseminasi dalah jika betina dalam keadaan standing heat, yaitu sebelum terjadi ovulasi.
Satu hal yang dianjurkan untuk mengadakan pendeteksian berahi adalah denga cara menempatkan sapi-sapi dara atau induk pada sebuah padang penggembalaan deteksi berahi. Padang penggembalaan ini seyogyanya cukup luas, memungkinkan betina-betina bisa kesana-kemasi dan bebas merumput, namun juga tidak terlalu luas, sehingga operator dapat mengadakan deteksi berahi dengan mudah.
Satu kunci sukses dalam deteksi berahi adalah lamanya waktu untuk mengamati betina-betina, memeriksa tanda-tanda berahi, adalah dianjurkan bagi operator meluangkan waktu selama minimal 30 menit pada pagi hari dan 30 menit pada sore hari. Operator juga dianjurkan memperhatikan betina-betina pada waktu-waktu yang sama setiap hari. Jadi, mempelajari mengenal tanda-tanda berahi dan mengetahuinya betina-betina yang sedang berahi merupakan kunci suksesnya satu program IB.
Catatan . Khususnya bagi peternakan sapi berskala kecil, sebagaimana yang ada di Jawa Timur pada umumnya, maka detksi berahi secara visual efektif setiap hari pada pagi dan sore hari bersamaan dengan waktu pemerahan susu atau kegiatan rutin lainnya.
Langganan:
Komentar (Atom)